Opini: AI dalam Software Engineering Sebagai Alat Amplifikasi, Bukan Pengganti Kompetensi
4 min read

Opini: AI dalam Software Engineering Sebagai Alat Amplifikasi, Bukan Pengganti Kompetensi

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah cara software engineer bekerja. Mulai dari penulisan kode, debugging, hingga eksplorasi arsitektur, AI mampu mempercepat banyak aktivitas teknis yang sebelumnya memakan waktu. Namun, di balik manfaat tersebut, muncul tantangan baru yang tidak selalu terlihat di permukaan.

Artikel ini membahas dua poin utama:

  1. Baik junior maupun senior engineer tidak boleh lengah terhadap penggunaan AI, karena AI pada dasarnya adalah alat bantu yang mengamplifikasi kemampuan, bukan pengganti kompetensi.
  2. Pihak di luar tim teknis perlu memahami bahwa penggunaan AI dalam software engineering membawa risiko serius jika tidak dikelola dengan pemahaman dan tata kelola yang tepat.

Pendekatan yang diambil bersifat netral dan bijak, dengan tujuan membangun pemahaman bersama antara engineer dan pemangku kepentingan non-teknis.


AI sebagai Alat Amplifikasi, Bukan Pendidik

AI tidak bekerja seperti mentor atau pendidik. Ia tidak membangun mental model, tidak memahami konteks bisnis secara menyeluruh, dan tidak bertanggung jawab atas dampak jangka panjang sebuah keputusan teknis. AI hanya mengolah pola dari data yang ada dan menyajikan solusi yang secara statistik terlihat masuk akal.

Dalam praktiknya:

  • Engineer dengan fundamental yang kuat akan menggunakan AI sebagai alat untuk mempercepat eksplorasi dan validasi solusi.
  • Engineer dengan fundamental yang lemah berisiko menggunakan AI sebagai pengganti proses berpikir, sekadar menyalin solusi tanpa memahami asumsi dan konsekuensinya.

AI mempercepat hasil, tetapi tidak menjamin arah solusi tersebut benar.


Risiko Lengah bagi Junior dan Senior Engineer

Junior Engineer

Bagi junior engineer, AI dapat menciptakan ilusi kompetensi. Kode yang dihasilkan terlihat rapi, modern, dan mengikuti best practice secara visual. Namun tanpa pemahaman fundamental—seperti alur data, manajemen state, concurrency, dan failure mode—solusi tersebut rentan terhadap bug laten dan kesalahan desain.

Junior yang sehat secara teknis akan:

  • Memahami alasan di balik solusi AI sebelum menggunakannya.
  • Menguji solusi di luar happy path.
  • Mampu menjelaskan kembali solusi tersebut dengan kata-katanya sendiri.

Sebaliknya, penggunaan AI tanpa refleksi hanya menghasilkan output cepat, bukan pembelajaran.

Senior Engineer

Bagi senior engineer, risiko justru terletak pada kelengahan dan over-reliance. AI dapat membuat keputusan teknis terasa lebih mudah dan cepat, sehingga mengurangi proses berpikir kritis terhadap trade-off, constraint sistem, dan risiko jangka panjang.

Peran senior tidak tergantikan oleh AI karena senior bertanggung jawab pada hal-hal yang tidak selalu terlihat:

  • Mencegah kegagalan sistem sebelum terjadi.
  • Menolak solusi yang tampak menarik namun berisiko.
  • Menjaga kesederhanaan dan keberlanjutan sistem.

AI membantu implementasi, tetapi tanggung jawab tetap berada pada engineer.


Ilusi Kesetaraan Skill di Mata Non-Teknis

Salah satu dampak sosial dari adopsi AI adalah munculnya persepsi bahwa perbedaan antara junior dan senior engineer semakin kecil. Hal ini wajar, karena pihak non-teknis umumnya menilai dari output yang terlihat:

  • Fitur berjalan atau tidak.
  • Demo terlihat baik.
  • Task selesai tepat waktu.

AI membuat kualitas permukaan kode menjadi relatif seragam. Naming rapi, struktur konsisten, dan pola desain tampak profesional. Namun, kualitas sistem tidak hanya ditentukan oleh apa yang terlihat, melainkan oleh ketahanan terhadap kegagalan, perubahan, dan skala.

Masalah-masalah kritis biasanya baru muncul ketika:

  • Trafik meningkat signifikan.
  • Dependency eksternal bermasalah.
  • Terjadi kondisi di luar skenario normal.

Pada titik ini, perbedaan kompetensi menjadi sangat jelas, tetapi biaya perbaikannya sudah jauh lebih mahal.


Risiko Organisasi Jika AI Tidak Dikelola

Tanpa pemahaman yang memadai, organisasi dapat mengambil keputusan yang keliru, seperti:

  • Mengurangi peran senior engineer terlalu dini.
  • Melemahkan proses review dan mentoring.
  • Mengandalkan AI sebagai substitusi pengalaman.

Secara jangka pendek, pendekatan ini terlihat efisien. Namun dalam jangka menengah dan panjang, hal ini berpotensi menimbulkan hutang teknis yang besar, penurunan kualitas sistem, dan risiko bisnis yang signifikan.

AI tidak memiliki akuntabilitas. Ketika sistem gagal, tanggung jawab tetap berada pada manusia dan organisasi.


Penutup

AI adalah alat yang sangat kuat dalam software engineering. Ia mampu mempercepat pekerjaan, meningkatkan produktivitas, dan membuka ruang eksplorasi yang lebih luas. Namun, kekuatan tersebut hanya bermanfaat jika digunakan dengan kesadaran dan tata kelola yang tepat.

Bagi engineer—baik junior maupun senior—AI harus diposisikan sebagai alat bantu dan amplifikator kemampuan, bukan pengganti pemahaman fundamental dan tanggung jawab profesional.

Bagi pihak di luar dunia teknis, penting untuk memahami bahwa kualitas software tidak hanya diukur dari kecepatan dan tampilan hasil, tetapi dari ketahanan, risiko, dan biaya kegagalan yang sering kali tidak terlihat di awal.

Dengan pemahaman bersama, AI dapat menjadi akselerator yang sehat, bukan sumber masalah yang tertunda.